Minggu, 31 Januari 2016

FISIKA BANGUNAN 1

Green Arsitektur:
Arsitektur Surya Pasif dan Aktif

Kalau kita simak, esensi penciptaan arsitektur adalah usaha untuk memenuhi tuntutan kubutuhan akan ruangan. Ruang yang tercipta haruslah memenuhi standar kenikmatan, seperti kontrol terhadap pencahayaan, penghawaan serta pengkondisian ruang. Di dalam arsitektur surya, pencapaian kenikmatan ini sering dikaitkan dengan sifat dan tenaga matahari yaitu “pasif” dan “aktif”. 

Perancangan arsitektur surya pasif, didasarkan pada kaidah-kaidah perancangan arsitektur yang selalu mempertimbangkan sifat tenaga matahari. Secara pasif sinar matahari mempengaruhi benda-benda yang dikenainya melalui proses radiasi, reradiasi, konduksi, refleksi yang keseluruhannya bersifat statis murni. 

Sebenarnya bentuk perancangan ini telah lama dekat dengan kehidupan kita sahari-hari. Misalnya pencahayaan ruang alam. Di sini sinar matahari yang tidak pernah mengeluarkan efek atau akibat apapun terhadap lingkungan kehidupan manusia, di manfaatkan secara langsung dan seoptimal mungkin untuk penerangan ruangan gedung atau bangunan. Kemudian mengatur elemen pengendalian cahaya untuk mendapatkan intensitas yang dikehendaki, yang antara lain mengatur; (1) Komponen bangunan, seperti letak dan luas lubang cahaya, sun-siding, tirai teritis, dan lain-lain.(2) Jenis vegetesi dan penempatannya dimaksudkan sebagai absorber radiasi maupun reradiasi. 

Contoh lain adalah penghawaan yang nyaman dengan mengatur elemen vegetasi sebagai pengontrol/pengendali suhu udara terhadap radiasi, konveksi, refleksi sinar matahari. Atau dengan pemilihan bahan struktur serta usaha-usaha merancang perlubangan untuk maksud pengaliran udara dan sebagainya. 

Sedang yang dikatakan arsiteksur surya aktif adalah segala usaha mengubah tenaga/sinar matahari yang mengenai suatu obyek sehingga tenjadi peningkatan nilai-guna terhadap energi. Tenaga tersebut atau dengan kata lain peningkatan nilai guna terjadi dikarenakan adanya investasi terhadap tenaga matahari dalam bentuk energi. Sistim ini banyak dipergunakan di negara-negara yang beriklim sedang (sub tropis). Karena potensi tenaga/sinar matahari pada belahan dunia ini lebih terbatas dibanding daerah dekat katulistiwa. Sehingga mendorong mereka berusaha untuk mengolah, membudidayakan serta mendaya-gunakan energi matahari ke dalam berbagai bentuk energi lain yang dibutuhkan. Mulai dari sistem pemanasan (heating) air dan udara, sistem pendinginan (cooling), sampai pada solar cell dengan proses photovoltaic listrik. Semuanya mengkoversikan tenaga/sinar matahari ke dalam bengunan dengan cara-cara mekanikal. 




Gedung ini merupakan salah satu memanfaatkan energi surya dan penghawaan pasif





Gedung yang memanfaatkan pencahayaan energi surya penghawaan aktif








 
Sumber:




Tidak ada komentar:

Posting Komentar